(Oleh Sri Wildani – Communications & Fundraising Officer)

Di sebuah kamar yang tenang, perjalanan Fandi terus berlanjut dengan iman, kesabaran, dan harapan.

Suara itu kecil, tetapi dampaknya mengubah segalanya.

Suatu pagi di bulan Januari tahun ini, Fandi* masuk ke kamar mandi untuk bersiap berangkat ke sekolah. Saat ia menunduk untuk membasuh wajahnya, tiba-tiba terdengar bunyi “krek” dari lehernya. Seketika rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia juga merasakan kesemutan, pandangannya mulai kabur, lalu perlahan kehilangan kesadaran.

Sejak saat itu, Fandi harus menjalani perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari 24 jam, hidup Fandi berubah drastis. Ketika ia kembali sadar, ia dihadapkan pada kenyataan yang sangat mengejutkan: ia tidak dapat menggerakkan tangan maupun kakinya. Tak lama setelah itu, saat masih dalam pengawasan di ruang gawat darurat rumah sakit, sistem pernapasannya tiba-tiba gagal. Ia harus segera mendapatkan tindakan penyelamatan dan dipasangi alat bantu napas. Selama dua bulan, Fandi dirawat di ruang ICU dan bergantung pada ventilator untuk membantu pernapasannya.

Dokter kemudian memastikan bahwa Fandi mengalami Spondylitis TB, yaitu infeksi tuberkulosis pada tulang belakang yang menyebabkan kerusakan pada tulang serta menekan saraf-saraf penting di tubuhnya.

Kini Fandi telah kembali ke rumah. Sebuah kenyataan baru dalam hidupnya. Ia bergantung pada ventilator untuk bernapas dan membutuhkan bantuan bahkan untuk aktivitas sehari-hari yang paling sederhana.

Sebelum semua ini terjadi, Fandi adalah remaja 16 tahun yang aktif dan penuh semangat, yang gemar bermain hadroh dan memukul rebana bersama teman-temannya, kini terasa seperti bagian dari kehidupan yang lain. Bagi Fandi, kebersamaan, musik, dan doa adalah hal-hal yang paling ia nikmati dalam hidupnya.

Di kamar tempat ia kini berbaring, kehidupan terasa jauh lebih sunyi. Kenangan tentang hari-hari penuh tawa dan musik bersama teman-temannya kini menjadi teman yang menemaninya.

Namun harapan tidak pernah benar-benar padam. Harapan itu hidup di hati Fandi, dan juga dalam doa-doa ibunya. Beberapa kali dalam sehari, ibunya dengan penuh perhatian membantu memindahkan posisi tubuh Fandi untuk merawat luka yang muncul akibat terlalu lama berbaring tanpa banyak bergerak. Ia juga membantu menopang tubuh Fandi agar dapat duduk di tempat tidur serta melakukan terapi tepukan dada untuk membantu mengeluarkan lendir dari paru-parunya agar tidak terjadi penumpukan.

Semua perawatan ini kini menjadi jauh lebih mudah dengan adanya tempat tidur rumah sakit di rumah mereka, sebuah bantuan yang menjadi anugerah bagi Fandi dan juga ibunya.

Dengan perhatian dan perawatan yang penuh kasih, perawat kami membantu meringankan beban yang dijalani Fandi dan keluarganya.

Di tengah berbagai tantangan yang tidak mudah, hati Fandi tetap lembut dan senyumnya tak pernah pudar. Ia senang berbagi cerita. Ibunya adalah teman setianya. Kini tim medis Rachel House juga menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka.

Setiap kali perawat kami datang berkunjung, Fandi dengan antusias menceritakan hal-hal kecil yang ia alami sepanjang hari. “Perawat Rina, tadi aku makan ini… enak sekali,” katanya sambil tersenyum.

Kehadiran para perawat membuat Fandi merasa didengar dan didampingi. Lebih dari itu, kehadiran mereka membantu meringankan beban yang ia dan ibunya pikul setiap hari, bahkan ketika pertanyaan-pertanyaan itu masih hidup dalam hati mereka: Apakah suatu hari Fandi dapat kembali memainkan rebana kesayangannya? Akankah ia bisa kembali ke masjid untuk mengaji dan melantunkan doa bersama teman-temannya?

Semoga suatu hari nanti, sayap-sayap impiannya membawa Fandi lebih dekat pada harapan-harapan yang ia genggam.

*Nama disamarkan untuk menjaga privasi.